Wednesday, June 29, 2011

I s r a k . M i k r a j . D a n . T e o r i . E i n s t e i n



Selamat menyambut Israk dan Mikraj. Islam mencatat peristiwa unik Israk dan Mikraj. Banyak perkara penting bagi umat Islam berlaku pada peristiwa Israk dan Mikraj antaranya ialah perintah solat lima waktu.
Secara istilah, Israk berjalan di waktu malam hari, sedangkan Mikraj adalah alat (tangga) untuk naik. Israk bermaksud perjalanan Nabi Muhammad SAW pada waktu malam hari dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjid AlAqsa Palestin. Mikraj adalah lanjutan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al Aqsa ke langit sampai di Sidratul Muntaha dan langit tertinggi tempat Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Allah swt. Israk’ Mikraj adalah kisah perjalanan Nabi Muhammad ke langit ke tujuh dalam waktu semalam.
Sejarah perjalanan Israk Mikraj Nabi Muhammad termaktub dalam Al-Quran 17.Al-Israk’ :1 yang berbunyi
“Maha suci Allah yang menjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Majidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. (17.Al-Israk’ :1)

Dan tentang mikraj Allah menjelaskan dalam Surah An-Najm:13-18:
“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (An-Najm:13-18)
Rasulullah SAW melihat secara langsung.
Allah ingin memperlihatkan sebahagian tanda-tanda kebesaranNya kepada Rasulullah SAW. Pada Al Qur’an surah An Najm ayat 13 diatas, terdapat kata “Yaro” dalam bahasa Arab yang ertinya “menyaksikan langsung”. Berbeza dengan kata “Syahida”, yang bererti menyaksikan tapi tidak mesti secara langsung. Allah memperlihatkan sebahagian tanda-tanda kebesaranNya itu secara langsung.
Mengenai pemahaman tentang Israk Mikraj ramai kaum muslim yang masih memiliki perbezaan pandangan secara berbeza, yang terbahagi dalam:
Pemahaman dgn beranggapan peristiwa Israk Mikraj hanyalah sekadar perjalanan roh, spiritual atau metaphor journey Nabi Muhammad SAW tidak dengan jasad fizikal. Pemahaman ini berpegang kepada surah Al Quran :17 Al-Israk’ : 60 “…Tidak lain mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu adalah sebagai ujian bagi manusia…”
Sebaliknya ada yang berpendapat, bahawa Israk dari Mekah ke Baitul-Maqdis itu dengan jasad atau physical journey. Sedang Mikraj ke langit adalah dengan ruh atau metaphor journey.
Pemahaman lain menyatidakan bahawa Israk Mikraj adalah perjalanan dengan jasad (fizikal) dan dapat dijelaskan dalam ilmu yang dipahami manusia kerana merupakan peristiwa nyata.
Pemahaman secara fizikal (physical journey).
Israk dan Mikraj, sebagai sebuah peristiwa metafizika (ghaib), barangkali bukan sesuatu yang istimewa. Kebenarannya bukanlah sesuatu yang luarbiasa. Kebenaran metafizika adalah kebenaran naqliyah (: dogmatis) yang tidak harus dibuktikan secara akal, namun lebih bersifat imani. Valid tidaknya kebenaran peristiwa metafizik—secara akal, bukanlah menjadi soal selagi ia diimani.
Didalam pemahaman secara fizikal, ada orang mempertanyakan kesahihan Israk` Mikraj ; “ apakah mungkin manusia melakukan perjalanan sejauh itu hanya dalam waktu kurang dari semalam?” . Kaum kafirpun telah menentang Rasulullah seperti dalam Al Quran dalam surat Al-Israka: 93.
“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”
Dan didalam Hadis
“Ketika orang-orang Quraisy tidak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
dan banyak Hadis hadis lainnya.
Hubungan antara peristiwa perjalanan Israk Mikraj dengan teori relatif.
Diantara keduanya terdapat faktor persamaan dan perbezaan didalam proses kejadian,
Persamaan kedua kisah antara lain:
• Keduanya membahaskan perihal perjalanan atau journey dari Bumi ke luar angkasa lalu kembali ke Bumi.
• Keduanya membahaskan penggunaan faktor “Speed” atau “kecepatan” tinggi didalam pemberitaannya
• Konsep mengenai perpisahan antara dua manusia (atau lebih) digunakan sebagai bahan pokok atau objek perbahasan didalam kedua cerita.
Dalam Israk Mikraj, Rasulullah meninggalkan kaumnya di bumi untuk ke Majidil Aqsa lalu ke Langit ketujuh, dalam kes teori relatif menceritakan tentang dua saudara kembar A dan B, dimana saudara kembar B pergi keluar angkasa.
Sampai disini dari hal hal tersebut diatas, kita sudah dapat mengambil kesimpulan secara mudah, bahawa peristiwa Israk Mikraj adalah benar. Bagaimana mungkin seorang manusia yang ummi 14 Abad yang silam dapat membuat sebuah cerita atau teori yang dapat dibuktikan didalam abad ke 20 dengan sedemikian detailnya. Dengan kata lain tidak mungkin Rasulullah SAW mencontoh teori Albert Einstein yang lahir sesudahnya (?).
Teori Relatif.
Theori Relatif membahaskan mengenai Struktur Ruang dan Waktu serta mengenai hal hal yang berhubungan dengan Graviti. Theori relatif terdiri dari dua teori fizik, relatif umum dan relatif khas. Teori relatif khas menggambarkan perilaku ruang dan waktu dari perspektif pyang bergerak relatif terhadap satu sama lain, dan fenomena terkait. Skala ertikel ini hanya dibahas teori relatif khas dan kesan yg disebut dilatasi waktu (dari bahasa Latin: dilatare “tersebar”, “delay”).
Einstein merumuskan teorinya dalam sebuah persamaan mathematik:
teori relatif= waktu benda yang bergerak
t = waktu benda yang diam
v = kecepatan benda
c = kecepatan cahaya
Diterangkan bahawa perbandingan nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, akan berpengaruh pada keadaan benda tersebut. Semakin dekat nilai kecepatan suatu benda (v) dengan kecepatan cahaya (c), semakin besar pula efek yang dialaminya (t`): perlambatan waktu. Hingga ketika kecepatan benda menyamai kecepatan cahaya (v=c), benda itu pun sampai pada satu keadaan nol. Demikian, namun jika kecepatan benda dapat melampaui kecepatan cahaya (v>c), keadaan pun berubah. Efek yang dialami bukan lagi perlambatan waktu, namun sebaliknya waktu menjadi mundur (-t’).
Kisah perjalanan Kembar.
Twin Paradox adalah suatu teori hasil pemikiran (Gedankenexperiment atau thought experiment) oleh Albert Einstein berasaskan teori relatif khas yang sehingga sekarang ini masih menjadi perdebatan para pakar fizik.
Theori tersebut secara keseluruhan menggambarkan kisah perjalanan dua saudara kembar yang berpisah. Salah seorang dari saudara kembar (A) tersebut tinggal di Bumi dan saudara kembar lainnya (si traveler(B)) terbang keluar angkasa kesebuah planet di tata suria yang jauh dengan kecepatan cahaya dan kembali kebumi dengan kecepatan yang sama.
Setelah mereka bertemu kembali dibumi mereka menemukan fakta bahawa umur si kembar yang mengadakan perjalanan (si traveler) lebih muda daripada umur saudaranya (A) yang tetap tinggal dibumi, disebabkan si traveler mengalami phenomenon time dilation atau fenomena dilatasi waktu dalam perjalanannya.
Time dilation (dilatasi waktu) adalah fenomena, dimana seorang Observer disatu titik melihat, bahawa jam dari orang yang bergerak dengan cepat menjadi lebih lambat (atau cepat), sebenarnya hal tersebut tergantung dari frame of reference dimana dia berada. Time dilation dapat di ketahui hanya apabila kecepatan mengarah kepada kecepatan cahaya dan sudah dibuktin secara akurat dengan unstable subatomic perticle dan precise timing of atomic clocks.
Applikasi Teori Relatif.
Salah satu aplikasi teori tersebut adalah alat GPS – Global Postioning System yang merupakan applikasi hasil dari theory relatif umum dan relatif khas. Dalam hal ini jam satellit di orbit di bandingkan dengan jam di darat sebagai faktor ketepatan pengiriman signal.
Akhir kata, saya menganggap bahawa pengetahuan adalah suatu fenomena menarik bagi kaum muslimin. Fenomena inipun banyak terjadi pada peristiwa sehari-hari dan bahkan dipelajari oleh ilmuwan barat untuk mempelajari peristiwa di alam raya. Dan mestinya bukanlah sesuatu yang dilarang atau berlebihan untuk lebih memahami fenomena di alam.
Mudah-mudahan dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Taala.
Diterjemah oleh isuhangat.net.
Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...